ASHADIN

Carousel

Thursday, July 2, 2020

Apa sih yang di maksud dengan Minor dan Major Update pada Perangkat Lunak (Software / Firmware)?

Apa arti Major dan Minor Update

Anda mungkin sudah pernah paling tidak sekali mendengar istilah Minor dan Major Update yang mungkin anda lihat pada Smartphone ataupun di PC Desktop, sebenarnya istilah ini di gunakan untuk menggambarkan jenis dari Update yang sedang di gulirkan, agar pengguannya tahu apakah Update tersebut bersifat penting atau tidak.

Seperti yang anda ketahui setiap Perangkat Lunak itu selalu memerlukan perkembangan atau di kembangkan ke tingkat yang lebih mutakhir agar bisa mengikuti pergerakan era teknologi yang semakin cepat berubah.

Sebenarnya tujuan dari adanya Update Perangkat Lunak adalah agar para pengguna dari Software tersebut selalu mendapat apa yang mereka harapkan dan inginkan, seperti peningkatan Performa, Keamanan dan Aksesibilitas.

Sejauh ini ada 2 buah istilah yang kerap menggambarkan update seperti apa yang sedang di gulirkan dan mereka biasanya menyebut dengan Update Minor dan Update Major.


Lalu sebenarnya apa sih maksud dari ke-2 buah istilah tersebut?



# UPDATE MINOR


Seperti namanya sendiri, update ini hanya bersifat kecil-kecilan, artinya dalam update yang di gulirkan mungkin hanya akan memperbaiki suatu Bugs, melakukan penyesuaian Coding/Algorithm, bahkan ada penambahan 1-2 buah fitur baru.

Biasanya Update Minor ini di berikan secara berkala, untuk memastikan apakah Software atau Firmware tersebut selalu dalam keadaan Prima, karena pasalnya setiap Software dan Firmware selalu membutuhkan penyesuaian agar para penggunannya dapat menikmati kinerja dari Software atau Firmware tersebut secara maksimal.

Untuk durasinya sendiri, biasanya Update bersifat Minor ini di gulirkan setiap 1 Minggu sekali, 1 Bulan sekali atau beberapa Bulan sekali, untuk size Updatenya sendiri pasti terhitung kecil, karena di dalam pembaharuan tersebut paling hanya terdapat penyesuaian, perbaikan Bugs atau penambahan sedikit fitur.


Maka dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Update Minor pada Software bisa di diartikan sebagai berikut :


1. Membawa penyesuaian untuk Value yang lebih baik.
2. Membawa perbaikan Bugs.
3. Durasi Update yang berkala dan terjadwal.
4. Rata-rata Size Update bersifat kecil.
5. Membawa sedikit penambahan atau perbaikan dari fitur sebelumnya.


# UPDATE MAJOR


Berbelakangan dengan Update Minor, pada Update Major seperti namanya bersifat besar, pada Update jenis ini akan terdapat pembaharuan yang besar, bisa jadi untuk semua lingkup tampilan antar muka, fitur baru, bahkan base Source yang lebih baru dan sangat berbeda dari sebelumnya.

Contoh dari Update Major ini seperti Update Windows 8.1 ke Windows 10 atau dari versi OS Android 7.1 ke Android 8.0, semua itu dalam kategori Update Major jika kita istilahkan, maka sudah dapat anda gambarkan sendiri, bahwa Update Major ini akan membawa perubahan yang besar dari segi Software maupun Firmware.

Sayangnya, Update Major ini jadwalnya tidak pasti, rata-rata satu tahun hanya akan ada 2 kali Update Major, bahkan tidak ada sama sekali.

Untuk Size Update Major ini saya pastikan akan bersize besar, karena membawa perubahan yang benar-benar besar dari pada versi Software atau Firmware sebelumnya.


Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Update Major bisa artikan sebagai berikut :


1. Update besar-besaran.
2. Lingkupnya adalah pembaharuan Base Source yang melibatkan banyak hal seperti, Tampilan antar muka, mekanisme System, Kinerja, Performa, Penyesuaian dan perbaikan yang di paketkan ke dalam satu buah Update.
3. Durasi Update Major ini tidak tetap.
4. Size untuk update Major ini biasanya besar, karena membawa banyak perubahan.

Dengan penjelasan yang cukup singkat diatas, saya pikir sudah sangat cukup untuk menjelaskan apa sih arti dari istilah Update Minor dan Major yang sering anda lihat pada suatu siklus update Software dan Firmware.

Karena dengan indikasi ini anda bisa tahu, apakah jenis Update tersebut bersfita penting atau tidak, karena rata-rata update Major itu semuanya penting, berkebelakangan dengan Update Minor yang biasanya tidak begitu penting.

Maka untuk mengetahui penting atau tidaknya suatu Update tersebut, anda di haruskan untuk membawa setiap Changelogs yang ada pada setiap Update yang muncul, jika ada terdapat masalah keamanan, kinerja, performa, atau perbaikan Bugs, saya pikir akan lebih bijaksana jika anda melakukan Update pada Software atau Firmware tersebut.

Nama dan ukuran semua kertas yang umum di gunakan dalam CM

Nama dan ukuran kertas langkap

Jika anda sudah terbiasa dalam dunia Printing atau sudah mahir dalam perkerjaan anda, pasti anda tidak akan kesulitan lagi untuk menemukan ukuran kertas yang pas untuk dokumen yang ingin anda cetak, tetapi saya yakin anda pasti hanya tahu nama dari kertas tersebut saja.

Misalkan kertas ukuran F4, A4, Letter atau Legal saja, wajar karena memang jenis kertas itulah yang paling sering dan umum di gunakan dalam dunia percetakan dokumen, tetapi tahukah anda berapa ukurannya?

Saya tidak yakin anda mengetahuinya dan faktanya ada banyak sekali jenis kertas yang mungkin awam untuk anda dengar sebelumnya, maka dengan demikian kali ini saya akan menshare kumpulan nama dari kertas tersebut berikut dengan ukurannya dalam hitungan Centimeter (CM).

Tujuan saya membuat artikel ini adalah untuk membantu anda dalam melakukan Indentifikasi terhadap kertas yang anda gunakan, karena anda akan mudah menemukan kertas yang anda inginkan ketika ingin membelinya ketika tahu ukuran kertas tersebut.

Umumnya kita sering mendapati bahwa anda di haruskan mencetak dokumen tersebut dalam ukuran kertas sekian kali sekian, maka saya yakin anda pasti akan kesulitan untuk menentukan jenis dari kertas tersebut, maka disinilah artikel ini dapat membantu anda.

Sejauh ini ada banyak sekali nama dan ukuran kertas yang umumnya di gunakan, supaya lebih jelas, berikut sudah saya List ukuran kertas yang di maksud berserta Nama dari kertas tersebut dan ukurannya dalam CM :

Letter : 21,6 cm x 27,9 cm
Junior Legal : 20,3 cm x 12,7 cm
Legal : 21,6 cm x 35,6 cm
Ledger : 43,2 cm x 27,9 cm
Tabloid : 27,9 cm x 43,2 cm
F4 : 21,5 cm x 33,0 cm
A0 (Ansi E) : 84,1 cm x 118,9 cm
A1 (Ansi D) : 59,4 cm x 84,1 cm
A2 (Ansi C) : 42,0 cm x 59,4 cm
A3 (Ansi B) : 29,7 cm x 42,0 cm
A4 (Ansi A) : 21,0 cm x 29,7 cm
A4s : 21,5 cm x 29,7 cm
A5 : 14,8 cm x 21,0 cm
A6 : 10,5 cm x 14,8 cm
A7 : 7,4 cm x 10,5 cm
A8 : 5,2 cm x 7,4 cm
A9 : 3,7 cm x 5,2 cm
A10 : 2,6 cm x 3,7 cm
C0 : 91,7 cm x 129,7 cm
C1 : 64,8 cm x 91,7 cm
C2 : 45,8 cm x 64,8 cm
C3 : 32,4 cm x 45,8 cm
C4 : 22,9 cm x 32,4 cm
C5 : 16,2 cm x 22,9 cm
C6 : 11,4 cm x 16,2 cm
C7 : 8,1 cm x 11,4 cm
C8 : 5,7 cm x 8,1 cm
B0 : 100,0 cm x 141,4 cm
B1 : 70,7 cm x 100,0 cm
B2 : 50,0 cm x 70,7 cm
B3 : 35,3 cm x 50,0 cm
B4 : 25,0 cm x 35,3 cm
B5 : 17,6 cm x 25,0 cm
B6 : 12,5 cm x 17,6 cm
B7 : 8,8 cm x 12,5 cm
B8 : 6,2 cm x 8,8 cm
B9 : 4,4 cm x 6,2 cm
B10 : 3,1 cm x 4,4 cm

Diatas tersebut adalah jenis dan Nama kertas yang sudah sangat umum di gunakan, jika anda tidak tahu nama dari kertas tersebut, maka sekarang anda tidak perlu kesulitan lagi, karena pasalnya anda bisa membeli kertas tersebut atau langsung menyebutkan ukuran dari kertas cetak tersebut, maka semuanya tidak akan menjadi salah lagi.

Umumnya orang percetakan pasti memiliki Format kertas tersebut, jadi langsung saja anda sebutkan ukuran dari kertas cetak tersebut, selain mengurangi resiko kesalahan dalam pencetakan, mengetahui jenis kertas ini juga akan sangat bermanfaat untuk anda di masa depan nanti, seperti jika anda ingin membuka usaha percetakan, semoga bermanfaat.

Cara mengganti tempat penyimpanan Download di Google Chrome

Cara mengganti tempat download Chrome

Saya yakin pasti banyak di antara anda sekarang pasti sudah menggunakan IDM atau aplikasi sejenisnya untuk bisa melakukan Download, karena benar saja banyak kelebihannya jika menggunakan Tool Download Accelerator tersebut.

Sebenarnya anda bisa saja melakukan Download tanpa IDM atau aplikasi sejenisnya, seperti menggunakan Tool Download asli dari Google Chrome, hanya saja Tool Download di Chrome tersebut tidak cocok untuk melakukan Download File yang besar.

Selain lamban, melakukan Download di Chrome juga biasanya memunculkan masalah, yaitu File Download yang anda Download selesai di tengah jalan, maka dari itu sangat tidak cocok untuk di gunakan dalam mendownload File yang besar.

Hanya saja untuk para perkerja kantoran yang hanya membutuhkan Download file dengan size kecil, mereka tidak memperdulikan penggunaan IDM sekali, karena pada dasarnya melakukan Download File seperti Ratusan KB hingga Puluhan MB itu tidak menjadi masalah.

Jika hanya di lakukan dengan Google Chrome semata, hanya saja di Google Chrome sendiri semua File akan otomatis terdownload pada direkori Drive C: >> Users >> (Nama User) >> Downloads.

Maka semua File yang anda download akan menjadi satu dengan File Download yang lainnya, bisa anda bayangkan sendiri, jika sda ratusan File Dokumen Download yang ada pada Folder Download sendiri, saya pastikan anda pasti akan kebingungan untuk mencari File yang telah anda Download.


Sebenarnya anda bisa saja mengganti direktori tempat Download tersebut sehingga tidak di Drive C: lagi, caranya adalah sebagai berikut :


1. Silahkan buka Google Chrome Settings dulu.

Cara mengganti tempat download Chrome

2. Selanjutnya silahkan Scroll pada bagian bawah dan tekan opsi Advanced untuk membuka lebih banyak opsi tingkat lanjutan.

Cara mengganti tempat download Chrome

3. Lalu cari menu Downloads dan silahkan ganti Direktori penyimpanan dengan menekan tombol Change.

Cara mengganti tempat download Chrome

4. Terakhir, silahkan atur saja tempat direktori Download sesukan hati anda, lalu tekan Select Folder.

Cara mengganti tempat download Chrome

5. Done!

Dengan melakukan hal diatas anda akan merubah tempat direktori Download secara permanent, jika anda menggunakan sebuah Komputer publik, seperti Komputer Kantor misalnya, tidak saya sarankan untuk mengubah Direktori Download tersebut, karena mungkin nantinya akan lebih semrawut.

Maka dari itu, silahkan gunakan Chrome Dialog sebelum melakulan Download, karena cara kerjanya adalah ketika anda melakukan Download, maka Chrome akan menanyakan " Dimana anda akan menyimpan File Download tersebut" cara ini sangat saya sukai.

Selain tidak mengubah settingan tempat Direktori Download secara umum, cara ini juga bisa memudahkan anda untuk melakukan Manage terhadap File yang akan anda Download, caranya adalah sebagai berikut :

1. Silahkan buka Google Chrome Settings dulu.
2. Selanjutnya silahkan Scroll pada bagian bawah dan tekan opsi Advanced untuk membuka lebih banyak opsi tingkat lanjutan.
3. Lalu cari menu Downloads dan Centang Opsi Ask where to save each file before downloading.
4. Setelahnya jika anda akan mendownload File, maka secara otomatis anda akan memilih tempat untuk menyimpan File Download tersebut, seperti ini contohnya :

Cara mengganti tempat download Chrome

5. Done!

Dengan demikian anda sudah bisa melakukan management File Download di Komputer Publik, cara ini sangat efektif untuk mengelompokan data yang anda Download dengan data pengguna Komputer lain.

Tujuannya sederhana saja, agar anda tidak kesulitan untuk mencari data anda dan tentu saja agar anda tidak stress melihat data yang semrawut, karena saya pribadi jika sedang berkerja dan melihat ada tumpukan file yang jadi satu, rasanya itu mau resign saja, karena kepala sudah pusing, badan pegal, melihat hal yang berhamburan seperti itu, mungkin akan menambah beban stress.

Benarkah Blog yang lama tidak Update Artikel, Visitornya akan turun drastis?

Visitor turun Blog tidak Update

Bagi para Blogger pemula, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang minim terkait dunia Blogging itu memang menjadi hal yang wajar, karena jika anda ingin sukses dalam dunia ini, maka mau tidak mau anda harus banyak belajar dari penglaman, bisa itu pengalaman orang ataupun dari pengalaman anda sendiri.

Seperti yang saya akan lakukan sekarang ini, saya akan membuktikan apakah sebuah Blog yang tidak Update Artikel cukup lama, apakah akan membuat Visitor turun drastis? dari kasus dan bukti yang akan saya tampilkan di bawah ini, maka anda bisa mendapat pengetahuan baru.

Tujuannya memang untuk mengetahui kondisi sebenarnya yang mungkin sebelumnya baru anda ketahui dari "Katanya" saja, tetapi tidak ada bukti, maka disini saya akan memberikan bukti itu, seberapa besar penurunan Visitor Blog yang tidak di kerjakan selama beberapa Bulan.

Untuk kasus ini saya sengaja tidak mengupdate Artikel pada salah satu Blog lama saya, saya cuma ingin tahu jika tidak di Update dalam waktu tertentu, seberapa besar penurunan Visitor yang terjadi, apakah secara Drastis Turun, Stabil atau turun perlahan?

Untuk statistiknya sendiri saya menggunakan Google Webmaster Tool, data yang saya tampilkan adalah data berupa Impressi Kueri di Halaman Pencarian Google dan tentu saja juga dengan Jumlah Klik hariannya.

Secara singkat Blog yang saya uji coba ini tidak saya Update Artikelnya dari Tanggal 1 Bulan November 2018 lalu hingga 10 Maret 2019, artinya selama 4 Bulan lebih saya sama sekali tidak membuat postingan pada Blog tersebut, lalu apa yang terjadi?


Anda bisa lihat sendiri dari Chart Graphic harian Traffic ini :


Visitor turun Blog tidak Update

Pada Chart diatas adalah Graphic perkembangan Traffic Blog saya selama 6 Bulan terakhir, dan pada Garis Merah adalah saat dimana saya tidak melakukan aktifitas Posting sama sekali, kecuali membalas komenan yang masuk yang kurang lebih mungkin ada sekitar 300-400 Komentar yang masuk hingga 4 Bulan terakhir.


Menurut saya jumlah komenan yang masuk juga tidak akan berpengaruh besar terhadap Traffic suatu Blog, jadi dapat disimpulkan dalam beberapa hal di bawah ini :


1. Satu Bulan pertama saya tidak melakukan Update Artikel Visitor cenderung Stabil
2. Dua Bulan setelahnya terlihat adanya penurunan baik Impressi maupun Jumlah Klik.
3. Setelahnya hingga bulan sekarang terlihat adanya penurunan yang Stabil, sedikit demi sedikit.
4. Setelah 4 Bulan tidak Update Artikel maka di ketahui adanya penurunan kurang lebih 20% dari Jumlah Traffic Normal.

Maka, dari kasus diatas sudah pasti bisa di ketahui bahwa sebuah Blog yang tidak di jalankan dengan semestinya, walaupun sudah memiliki Ranking yang baik dan Jumlah Visitor yang Stabil sebelumnya, jika tidak di kerjakan atau tidak di Update Artikelnya maka pasti akan menurun Jumlah Visitornya.

Selanjutnya dapat kita ketahui juga bahwa penurunan yang terjadi tidak Drastis dan cenderung Turun secara perlahan dan Stabil, hal ini di pengaruhi oleh jumlah artikel di dalam Blog tersebut, yang pada Blog yang saya uji coba ini jumlah artikel ada sekitar 600 buah.

Untuk pendapatan sendiri, setalah 4 Bulan saya mengalami penurunan pendapatan sekitar 15-20% yang jika di rupiahkan mungkin sekitar 1 Juta lebih, hal ini juga di pengaruhi dengan Faktor lain seperti harga CPC yang kecil di awal tahun.

Kenapa saya melakukan hal ini? karena saya ingin tahu dan saya ingin berbagi dengan anda.

Kenapa saya berani Rugi melakukannya? Karena saya pikir penurunan pendapatan sekitar 1 Jutaan saja bukan menjadi masalah, karena Jumlah Income yang masih tergolong besar setiap bulannya.

Jika saya tidak melakukan hal ini, maka saya tidak akan pernah tahu seberapa besar akan dampak jika suatu Blog tidak di kerjakan dengan semestinya, sehingga dengan demikian saya tahu takaran seberapa lama saya bisa ambil cuti dalam kegiatan Blogging tanpa perlu takut adanya terjadi penurunan Visitor Blog.

Maka, jawabannya seperti yang sudah saya jelaskan diatas, umumnya Blog yang tidak di kerjakan selama 1 Bulan penuh, maka tidak akan mempengaruhi jumlah artikel, dari sini kita bisa berpikir ulang, apakah dalam waktu 1 Bulan tersebut ingin fokus membuat Blog baru atau tidak, tanpa adanya kerugian yang berarti.

Lalu, jika Visitor sudah Turun apakah akan sulit untuk mengembalikan jumlah Visit hariannya? saya pikir jika Blog yang sudah memiliki Ranking bagus dan Kueri pencarian yang sudah banyak, dalam waktu 1-2 Bulan pun jika di kerjakan secara konsisten lagi, maka Visitor akan kembali Normal.

Dengan demikian, kasus saya diatas bisa menjadi acuan anda untuk bisa melakukan Experiment lain atau sebagai dasar pembuat keputusan anda di masa depan.

Perlu saya ingatkan lagi, anda tidak boleh Cuti dalam kegiatan Blog jika Ranking Blog anda masih belum kuat, jumlah artikel anda kurang dari 300 atau Visitor anda belum mencapai 10 Ribu lebih, karena bisa jadi akan terjadi lonjakan penurunan yang sangat besar.

Saya sendiri sudah cukup lama ingin melakukan hal ini, tetapi karena beberapa pertimbangan baru saya lakukan pada beberapa Bulan lalu, yang pada hasil akhirnya saya puas, bisa mengetahui Fakta ini.

Semoga artikel ini bisa membuka pikiran anda, pengetahuan anda atau memancing anda untuk melakukan Eksperiment lain, semoga bermanfaat.

Cara Verifikasi situs di Google Webmaster Tool baru dengan DNS Record

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

Seperti yang anda ketahui, saat ini jika anda menggunakan Google Webmaster Tool maka anda sudah tidak bisa lagi untuk menggunakan versi lawas, karena secara otomatis sudah di redirect ke versi yang baru tanpa adanya opsi untuk kembali ke versi lawas, seperti sebelumnya.

Bagi anda Blogger yang memang sudah terbiasa dengan Google Webmaster Tool lawas, mungkin akan sedikit beradaptasi dengan versi baru ini, karena dari semua fiturnya memang terlihat baru dan salah satunya adalah adanya Tool verifikasi baru untuk sebuah situs.

Jika sebelumnya kita di tuntut untuk melakukan Verifikasi berupa memasukan berbagai macam Legacy domain situs, seperti HTTP, HTTPS, WWW dan Non-WWW, maka sekarang tidak perlu lagi.

Karena semuanya bisa di Verifikasi hanya dengan bermodalkan nama domain anda saja, tidak perlu lagi, menginput satu-persatu Legacy Domain.

Hanya saja cara ini terhitung baru dan saya sangat yakin bagi para Blogger pemula akan kesulitan untuk melakukan verifikasi tersebut, karena memang dalam metodenya tidak semudah seperti meletakan Google Tag Manager di dalam template.

Lebih jauh lagi, bahwa metode ini akan menggunakan DNS Record dan hal ini penting untuk di ketahui oleh Blogger yang menggunakan Blogger Custom Domain, bagi yang menggunakan Sub Domain berupa Blogspot, maka anda tidak perlu memikirkan hal ini.

Lalu bagaimana cara melakukan verifikasi situs dengan DNS Record? sebenarnya caranya mudah sekali, anda hanya perlu mengikuti arahan ini :


# Mendapatkan TXT DNS Record dari Google


1. Silahkan Login ke Webmaster Tool dulu.
2. Pilih domain yang ingin anda verifikasi dengan DNS Record.
3. Selanjutnya masuk menu Settings.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

4. Lalu tekan opsi Ownership Verification.


5. Lalu tekan lagi opsi Domain Name Provider.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

6. Disini anda sudah bisa melihat TXT DNS Record Google yang akan kita gunakan untuk melakukan verifikasi via DNS Record.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

7. Copy TXT DNS Record Google tersebut dan lakukan langkah selanjutnya.


# Melakukan Verifikasi DNS Record


1. Silahkan Login dulu ke tempat anda berlangganan Domain, seperti Niagahoster, Rumahweb, Dewaweb dan lainnya, pada kasus ini saya menggunakan Rumahweb dan saya pikir menunya akan sama saja seperti penyedia Domain yang lain.
2. Jika sudah silahkan pilih Domain situs yang ingin anda verifikasi.
3. Masuk menu DNS Management.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

4. Lalu silhkan tekan Add New Record.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

5. Untuk Domain silahkan Kosongkan saja.
6. TTL gunakan yang default saja (bawaan).
7. Record Type pilih TXT.
8. Pada bagian Text Information silahkan isi dengan TXT Record yang sudah Google berikan di Google Webmaster Tool.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

9. Selanjutnya silahkan tekan Add Record.
10. Hingga muncul seperti ini :

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

11. Lalu silahkan masuk ke Google Webmaster Tool lagi dan lakukan Verifikasi dengan menekan tombol Verify.

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

12. Jika berhasil maka akan muncul pemberitahuan seperti ini :

Verifikasi Webmaster Tool dengan DNS Record

13. Done!

Catatan : Jika tidak berhasil di Verify via Google Webmaster Tool, maka silahkan tunggu hingga 24 Jam, karena biasanya penyedia layanan Domain perlu proses untuk melakukan penyesuaian settingan Domain baru yang telah anda buat.

Saya sendiri baru berhasil melakukan Verifikasi tersebut setelah 20 Jam lamanya, jadi harusnya jika sudah 24 jam, maka melakukan verifikasi sudah sangat mungkin untuk di lakukan.

Perlu anda ingat, dengan menambahkan DNS Record baru di Domain yang anda punyai tidak akan mengganggu performa Blog anda sedikit pun, karena sifatnya cuma meletakan Text saja dan tidak memberikan dampak lain seperti misal mengganti CNAME dan lainnya.

Sehingga cara diatas ini sangat aman untuk anda gunakan dan pastinya tidak akan sedikitpun mengganggu peforma Blog yang anda miliki.

Jika sudah ter-verifikasi, maka biarkan saja TXT DNS Record yang telah anda buat tersebut, karena dengan adanya DNS Record baru tersebut, maka Blog anda di Google Webmaster Tool sudah di pastikan akan menggunakan satu buah domain master saja lagi dan tidak memerlukan Legacy lagi.

Lalu, katanya cara ini akan sangat berguna untuk kepentingan Google Search, benar atau tidak kita akan buktikan nantinya, semoga bermanfaat dan lakukan dengan hat-hati.